Meresahkan!! ,Pedagang Girian Diintimidasi. Diduga Ada Oknum Aparat Terlibat

sergap24.com – Bitung (SULUT), pedagang dipasar Basah Girian semakin resah, Menyusul sejumlah keributan yang terjadi antara dua pihak keluarga yang mengklaim lahan pasar milik mereka.

Foto : Sejumlah Penagih mengerubuti seorang pedagang – pasar Girian

Dari informasi video yang disampaikan Pedagang Pasar,(17/11/03) keributan selalu terjadi ketika pihak keluarga Pinasang dan Keluarga Umboh bertemu dilokasi pasar. Pihak Pinasang yang didominasi ibu-ibu seringa bertengkar dan beradu ejekan satu Sama lain.
Sementara keluarga Umboh yang didominasi Pria paruh baya, terlihat lebih tenang dalam bereaksi namun selalu menggunakan Kamera ponsel untuk merekam.

 

Selain mengalami gangguan dalam berdagang, pedagang juga mengaku diintimidasi salah satu pihak, dengan ancaman pembongkaran jika tidak membayar.

 

Menurut Bidu, pedagang ayam , selama ini kondisi tidak kondusif ini selalu terjadi dipasar Girian. Pedagang yang tidak membayar kepada salah satu pihak Diancam akan dibongkar dan diganti.

 

“ saya pedagang yang membayar ke pihak Umboh sudah puluhan tahun. Jelas menolak pembayaran kepada Pinasang, karena mereka baru hadir belakangan dengan surat yang tidak jelas. Maka saya selalu Diancam akan dibongkar oleh Mereka “ Ungkap Bidu yang mengaku sudah melaporkan hal ini kepada Pihak Kepolisian (17/11/03).

 

Bahkan menurut Bidu, dirinya mendapat tekanan dari oknum – oknum berpakaian preman yang kami duga adalah aparat, dan ada pihak organisasi yang menyarankan mengakui keberadaan penagihan Pinasang.

 

“ kemarin pak, kami yang menolak penagihan mereka dipanggil disalah satu warung didalam ada beberapa orang. Saya curiga mereka anggota, bersama orang mengaku pengurus organisasi. Mereka menekan saya untuk membayar kepada pihak tertentu. Bahkan mereka mengancam, katanya lebih baik bayar daripada menyesal” ,Kesal Bidu.

 

Hal yang sama juga disampaikan Umi, yang mengaku didatangi salah seorang penagih dan mengaku anggota polisi. Sudah berkali-kali Umi sampaikan untuk menyelesaikan persoalan tanah dipengadilan, tetapi yang bersangkutan mengklaim sudah menang dipengadilan..

 

“ Iya, dia mengaku anggota polisi , dan mengancam besok (18/11/03) saya diminta keluar dari pasar”, Ungkap Umi Lirih.

 

Keluhan yang sama disampaikan Samsi. Pedagang ikan ini mengaku sangat kesal dengan kondisi ini. Jika terjadi keributan, maka yang jadi korban adalah pedagang.

 

“ Setiap ada pedagang menolak bayar, pasti penagih ini bikin keributan. Jadi kami bayar saja sesuai dengan keinginan mereka” ,Tegas Samsi.

 

Dia berharap kepolisian dan pihak berwenang lainnya segera menyelesaikan persoalan ini. Karena, bisa dikemudian hari akan terjadi tindak pidana.
Saling klaim lahan ini terjadi sudah lama. Menurut Informasi dari sistem Informasi penelusuran perkara (SIPP) pengadilan Negeri yang bisa diakses secara online. Lahan pasar saat ini tidak dalam “ Status Sengketa “. Pasalnya hingga kini tidak ada Gugatan perdata yang diajukan salah satu pihak dipengadilan negeri Bitung.

 

Hanya saja, menurut keterangan SIPP Pengadilan Negeri Bitung, tahun 2021 sudah pernah ada putusan pengadilan, yang berhubungan dengan lahan tersebut. Lis Naomi Maga pernah melayangkan gugatan Perdata kepada Ahli Waris keluarga Umboh, dengan Nomor 66/ PDT /2020 Pn. Btg.

Foto : Kutipan Akhir Salinan Putusan Pengadilan Negeri Bitung, No. 66/Pdt.G/2020/PN.BIT “Penggugat Lis Maga – Tergugat Kel. Umboh”

 

Sayangnya dalam Amar putusan, Majelis Hakim mengadili, bahwa Gugatan Penggugat (Lis Naomi Maga) dinyatakan Cacat Formil, dan tidak dapat diterima pengadilan. Namun Eksepsi Tergugat ( Umboh ) Diterima Majelis Hakim.

 

Materi utama Eksepsi Tergugat (umboh) menilai Gugatan Penggugat kurang pihak dimana salah satu Pihak penjual tanah, tidak digugat. Karena asal tanah pasar bukan dibeli dari Arnoldus Pinasang, tetapi HEIN WATUNA.

 

Argumentasi itu berdasarkan putusan pengadilan Negeri Manado No Register 275/Prdt.G/ 1983/ PN.MDO.BTG.
Dimana jauh sebelum Lis Naomi Maga menggugat, Ahli Waris Arnoldus Pinasang lainnya yaitu Ishak Maga pernah melakukan gugatan atas beberapa objek, termasuk sebagian objek yang sama dalam gugatan Lis Maga.

Dalam Amar putusannya 24 Desember Tahun 1984, yang telah berkekuatan hukum tetap menyatakan, bahwa tanah objek sengketa adalah peninggalan almarhum Paul Umboh, yang dibeli dari HEIN WATUNA.
Berdasarkan Surat penjualan tanggal 7 November 1954, yang ditanda-tangani dihadapan hukum tua Girian Bawah, saat ini dimekarkan Kel. Girian Weru Satu.

Foto : Surat Jual Beli Hein Watuna Kepada Paul Umboh Tahun 1954, Diukur Dan Ditulis Dalam register Nomor 649, Folio 103, di tandatangani hukum tua Girian bawah tahun 1955.

 

Putusan tahun 1984 juga memastikan, bahwa Gugatan Ishak Maga tidak bisa dibuktikan, dimana Objek tanah dipasar Basah Girian, bukan dibeli dari Arnoldus Pinasang, namun dari Hein Watuna tahun 1954. Transaksi ini sudah dibuatkan Surat Jual Beli Tahun 1955, diukur dan ditulis dalam register 649 Folio 103, disahkan pengukur dan Hukum Tua.

 

Pada Keterangan Lain, Pihak Pinasang melakukan penagihan berdasarkan surat keterangan kepemilikan tahun 2001, yang dikeluarkan Kelurahan. Juga Surat Keterangan pemasangan patok tahun 2013, yang ditanda tangani Mantan Lurah Girian Weru Satu (YM) Alias Anti.

 

YM sendiri sudah dimintakan keterangan kepolisian terkait laporan Pidana penyerobotan oleh keluarga Umboh Terhadap Lis Maga, awal pekan ini.

 

Diinformasikan, YM sendiri sudah membantah menanda-tangani surat tersebut. Bahkan, YM memastikan bahwa surat tersebut tidak tercatat dalam register kelurahan. ****