Orang Tua Korban Minta Polda Sumsel Segera Tangkap dan Tahan Para Pelaku Pencabulan Terhadap Anaknya

Sumsel252 Dilihat

Palembang sergap24.com

“Kasus pencabulan anak dibawah umur yang dialami Aliyah (13th) warga desa Julu Taro Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Banyuasin, di duga dilakukan oleh empat pelaku inisial, R, D, R dan R seperti nya kasus ini jalan ditempat. Keempat pelaku sampai saat ini masih belum ditahan oleh petugas kepolisian dengan dalil para pelaku masih di bawah umur.

“Hal ini di sampaikan oleh ayah korban Sumadi didampingi Istri dan Paman korban yang diberi kuasa saat diwawancara awak media di rumah kediamannya Selasa malam (31/10/2023).

“Kepada awak media, Sumadi menceritakan kronologis kejadian pencabulan yang terjadi pada anaknya berawal sekitar tanggal satu oktober jam 12 malam, Aliyah keluar dari rumah menyusul anak adiknya, karena sudah satu jam aliyah tidak kunjung kembali kerumah akhirnya Sumadi berinisiatif mencari anaknya ditemani adik ipar.ujarnya

“Saya pikir anak saya mau BAB, tapi sudah satu jam lebih tidak masuk lagi ke rumah jadi saya panik, saya cari keluar karena WC kami jauh di bawah diluar bukan dirumah. Kami cari di WC tidak ada, bertanya kepada tetangga tidak tau, sudah dicari kemana-mana masih tidak bertemu, jadi saya panik,” Ujarnya.

“Ditemani adik ipar ketika kami mencari dijalan darat (belakang rumah), bertemulah dengan pelaku Rangga, saya tanya dengan Rangga “lihat Aliyah dak?, katanya tidak” pas saya lihat kebelakang anak saya celananya sudah melorot semua, bajunya sudah compang-camping. Setelah itu adik ipar saya mau nyampiri Rangga, akan tetapi Rangga nya sudah kabur, saya tanya Aliyah katanya dia di anui (Diperkosa.baca) oleh orang empat yakni Deni, Ridho, Rizki dan Rangga,” Terang Sumadi.

“Selepas itu, Sumadi melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa setempat, yang pada saat itu menerima laporan Sekdes bernama Burlian, karena Kadesnya berada di desa lain bukan berada di desa Julu taro kecamatan air Sugihan kabupaten Banyuasin. Keesokannya pelaku Rangga dipanggil untuk dipertemukan dengan keluarga korban, tapi Rangga tidak mengakui perbuatannya.

“Malahan kami ditantang kalau ingin menuntut lebih tinggi silahkan, kami bisa lebih tinggi lagi. Kami tidak bisa menuntut karena kami tidak punya uang, Sekdes juga tidak membela kami, di diamkan saja jadi kami pulang ke Muara Padang tempat kakek saya. Selanjutnya kakek saya mengajak ke Polda untuk melapor tanggal 2 Oktober, di Polda saya ceritakan apa adanya,” Tutur Sumadi.

“Lanjutnya, Sekitar tanggal 9 Oktober dipanggil lagi oleh penyidik untuk dilakukan penyelidikan hampir 5 jam di sana. Penyidik mau ke TKP, kami sambut datang ke TKP dan anak saya juga direka ulang. Saksi-saksi disana ditanya kata mereka orang 4 tadi dipanggil tapi kenapa tidak ditahan dan bisa pulang, katanya masih anak-anak.

“Sampai sekarang belum ada kelanjutan, kata mereka sabar saja, ikuti prosedur, Sudah sampai sebulan tidak ada kabar. Akhirnya kami minta bantu Paman Umar Dani dan saya serahkan kepada pak Umar dani. Kami mendapat kabar kata orang disana sudah damai, dan pelaku di sana bilang sudah damai. Bapak Rizki bilang sudah damai 80 juta, karena kami tidak merasa berdamai jadi kami tidak senang, sampai detik ini belum merasa damai, kami menuntut keadilan,” Tukasnya.

“Hal senada disampaikan oleh Umardani selaku Paman dari orang tua korban yang diberikan kuasa, Umardani menambahkan, “Saya mendapatkan telpon dari ayuknya istri Sumadi memberitahukan kepada saya bahwasanya pihak Polda menghubungi ayuk Sumadi untuk datang ke Polda mau dimediasi, karena saya sudah diberi kuasa oleh bapak korban jadi saya lah yang datang ke Polda bersama saudara saya pak Rusdadi,” Ungkapnya

“Sesampainya di Polda kami disuruh menunggu Kanit, setelah Kanit datang kami ditanya diajak mediasi. Kanit bertanya siapa yang punya surat kuasa, saya bilang saya, apakah bapak yang akan mediasi, datang abang saya yang ambil alih mediasi dengan Kanit yang bernama Kompol Dedi, jadi saya keluar sebentar untuk merokok.

“Saat saya kembali lagi, ruangan itu sudah terbuka dan saya dipanggil disuruh kenalan dengan pengacara pelaku yang bernama Ikhwan, setelah itu saya disuruh mediasi di ruangan mediasi, pihak pengacara dari pelaku bertanya bagaimana kemauan dari korban, saya bilang kami ini korban saya mau mendengarkan dari pihak kalian sebagai tersangka. Akhirnya dia bilang singkat saja, akhirnya saya utarakan kemauan dari orang tua korban yang jelas anaknya dilecehkan otomatis minta pertanggung jawaban dari pihak pelaku, apa penggantian pengobatan atau bagaimana,” Jelas Umardani

“Menurut keterangan dari pihak pengacara, katanya hari ini kita ketemuan jadi saya mau rundingan dulu dengan orang tua korban. Umardani menyayangkan keempat pelaku tidak ada di sana dan tidak ada yang ditahan malah terkesan dibiarkan bebas keluar masuk kantor polisi, seharusnya Polisi sebagai penegak hukum bisa melihat mereka benar atau tidak.

“Tanggal 30 September mediasi tadi, sepengetahuan saya belum ada perdamaian serupiah pun, mereka belum ada mengeluarkan uang penggantian pengobatan atau uang apapun. Malah saya dengar dari ayuk orang tua korban memberi tahu saya bahwasanya dia ketemu dengan pamannya orang tua pelaku dipasar induk Jakabaring, katanya selesai urusannya dengan uang damai 80 juta. Saya selaku yang diberi kuasa pun belum pernah melihat serupiahpun dari pihak pelaku, sementara korban ini terbengkalai,” Tegas Umardani dengan nada kesal.

“Pihaknya berharap ada etikat baik dari pihak pelaku karena pada saat mediasi dari pihak para pelaku sudah menyanggupi tapi akan dimusyawarahkan terlebih dulu, tapi nyatanya sampai hari ini belum ada sama sekali mediasinya.

“Hasil dari mediasi itu tidak ada perdamaian, sementara orang tua pelaku sudah berteriak-teriak di desa Julu taro. Seperti sudah tidak ada hukum lagi, mereka sudah bebas, sudah damai dengan jumlah uang damai 80 juta itu omongan dari salah satu dari orang tua pelaku,”Ujarnya Umardani

“Saya berharap Kapolda Sumsel dapat membantu dalam perkara pencabulan, yang di alami korban Aliyah, dan harapan kami perkara ini bisa cepat dituntaskan,” Pungkas Umardani.

Saat awak media menkonfirmasi terkait berita tersebut via whattsapp, Kompol Dedi menjelaskan, Bahwa dalam perkara persetubuhan atau pencabulan yang dialami Aliyah tdk ada penerapan restoratif justice, perkara ini tetap kami proses sesuai hukum yg berlaku.

“Saya rasa jawaban saya cukup jelas ya pak, kalau masalah diluar kami tidak paham,” Tutup Kompol Dedi.

Ketika awak media mencoba mengkonfirmasi ke Kantor PPA Polda Sumsel, Rabu (01/11/2023) untuk bertemu langsung, Kompol Dedi sedang tidak berada diruangannya. Melalui anakbuahnya Irfan menjelaskan, bahwa saat ini proses hukum masih tetap berjalan.

“Perkaranya saat ini masih penyelidikan, dimana kita masih mengumpulkan fakta dan bukti, kita sudah mendatangi TKP, sudah minta keterangan saksi-saksi. Dan sekarang ini prosesnya kita mengupayakan naik ke sidik, kalau sudah naik sidik baru kita bisa lakukan penahanan, kita periksa sebagai saksi dulu, setelah diperiksa sebagai saksi baru kita tetapkan sebagai tersangka atau ABH (Anak Berhadapan Hukum), itu prosedur hukumnya. Jadi apa yang dibicarakan oleh orang tua pelaku bahwa sudah ada kesepakatan damai, saya pastikan tidak benar,” Tutup Irfan

Pewarta Karman69
Editor K69