BPBD Lamsel Gelar Sosialisasi Kajian Risiko Bencana

Sergap24.com, Lamsel – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Sosialisasi Kajian Risiko Bencana (KRB) yang berlangsung di Aula Krakatau, kantor bupati setempat, Rabu (27/12/2023).

Sosialisasi yang diikuti oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Kecamatan di lingkungan Pemkab Lampung Selatan itu, menghadirkan konsultan dari CV. Hasta Tunggal Pratama sebagai narasumber.

Turut hadir dan memberikan sambutan pula, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Ir. Lili Mawarti, M.Si, didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung Selatan Ir. Rini Ariasih M.M.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Ariswandi menyampaikan, sosialisasi KRB ini menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi risiko bencana di Lampung Selatan, untuk secara bersama-sama meningkatkan mitigasi dan kapasitas kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana.

“Upaya penanggulangan bencana di wilayah Lampung Selatan harus terus berkoordinasi, terutama di jajaran lintas sektoral. Serta upaya ini tidak hanya berkaitan dengan tanggap darurat melainkan keseluruhan manajeman resiko kebencanaan,” ucap Ariswandi.

Ariswandi menerangkan, BPBD Lampung Selatan pada Tahun 2023 telah menyelesaikan rencana kontigensi bencana alam seperti rencana kontigensi tsunami, rencana kontigensi banjir, rencana kontingensi kekeringan dan cuaca ekstrim, dan akan bertambah pada rencana kontigensi penanganan ternak akibat bencana.

“Melihat potensi bencana alam di wilayah kita, maka Kabupaten Lampung Selatan perlu menyusun rencana kontingensi untuk mengantisipasi bencana sebagai salah satu bentuk perencanaan untuk kondisi saat bencana terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Ir. Lili Mawarti, M.Si, menambahkan, pentingnya penyusunan dokumen ini untuk mengantisipasi keadaan darurat terhadap ternak yang dilakukan secara cepat, tepat dan terpadu.

“Bencana yang tidak menentu kapan akan terjadi memerlukan kesiapsiagaan dan perencanaan yang matang agar menekan kerugian yang lebih besar, termasuk ternak, dimana akan terjadi penurunan produktivitas, kesakitan, kematian dan kerusakan infrastruktur peternakan.”ungkap Lili Marwati.

Lili Marwati menuturkan, Lampung merupakan Pilot Project dokumen rencana kontingensi penanganan ternak akibat bencana di Luar Jawa, yang diharapkan hasilnya dapat menjadi panduan bagi daerah lain.  (Nzr/kmf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *